Resensi Buku 'Dengan Pujian Bukan Kemarahan (Rahasia Pendidikan di Negeri Sakura)' by Nesia Andriana Arif
Bismillahirrahmanirrahim.
Qoutes :
“Anak itu bagaikan menjadi guru yang mengasah kualitas kemanusiaan orang tua nya.”
(di Paraprase kutipan hal.10).
Identitas Buku :
Judul : Dengan Pujian Bukan Kemarahan (Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura)
Penulis : Nesia Andriana Arif
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo KG Kompas Gramedia
Kota Penerbit : Jakarta
Cetakan : Kedua, Juni 2010
Jumlah Halaman : 295 Halaman
ISBN : 978-979-27-6411-6
Rangkuman pengantar Buku:
Buku ini menceritakan pengalaman hidup Nesia sebagai Ibu tiga orang anak asal Indonesia. Pembaca akan banyak belajar cara orang-orang Jepang mengajarkan Kemandirian sejak dini pada anak-anaknya.
Seperti contohnya menanamkan kemandirian belanja ke supermarket atau ke poli kesehatan atau di Indonesia ke Puskesmas atau Klinik Keluarga terdekat, orang tua di jepang akan membiasakan mengenalkan rute terdekat pada anak-anak, jadi anak saat kelas IV atau V SD sudah bisa bepergian ke poli gigi atau supermarket atau kenal stasiun terdekat dari rumahnya sedari dini.
Pembaca akan dikenalkan berbagai istilah dalam Jepang, contohnya istilah Hoikuen dan istilah Piccolo. Hoikuen merupakan istilah untuk menggambarkan tempat penitipan anak di bawah 6 tahun, sedangkan Piccolo merupakan istilah untuk nama sebuah lembaga tempat main anak yang terletak di Kota Fujisawa.
Analisis Bacaan/Buku :
Buku yang di tulis bu Nesia, mengajarkan budaya positif yang dapat diambil dari kebiasaan orang Jepang yaitu memberikan apresiasi pada setiap kemajuan anak, juga menumbuhkan kemandirian sejak dini, tapi terdapat hal negatif juga berupa, motto ‘kankei-nai’ (tidak ada hubungan), yang membuat orang-orangnya menjadi cenderung individualis dan kurang empati pada orang lain.
Menurutku berdasar penjelasan buku ini, boro-boro empati, simpati aja kurang sekali, hal yang ku dapati setelah memahami Kankei-nai, sebuah istilah yang tak asing sebagai seseorang yang suka menonton anime Jepang setelah membaca buku ini, hihihi.
Yang menarik perhatian ku untuk dijadikan refleksi, dan mungkin bisa diterapkan juga di Indonesia.
Mungkin jika kamu yang membaca tulisan ini punya ilmu yang lebih, dan kemkewenangan lebih. Di Jepang, ada istilah komodo 110, dimana ada satu warga jepang yang memiliki kerelaan untuk rumahnya digunakan sebagai pos berlindungi anak-anak dari orang-orang jahat. Tentu saja pemilik rumah perlu mendaftarkan diri di kantor Kecamatan untuk mendapat izin menjadi kodomo 110, kemudian mengajuan akan diurus, dia akan dilatih, dan dibina oleh kepolisian dan/pihak terkait.
Proses hingga dinyatakan sebagai kodomo 110 juga ada seleksinya. Jadi, tidak sembarang saja. Terlepas dari kebiasaan apatis di atas, ada aspek respect terhadap perlindungan anak-anak yang aku tangkap pada budaya Jepang. lengkapnya penjelasan tentang kodomo 110 adalah istilah untuk titik-titik yang bisa dijadikan anak-anak sebagai tempat berlindung dari bahaya yang tiba-tiba datang mengancam. Misalnya Orang jahat, ataupun karena kelelahan atau tersasar di jalan.
Penduduk biasa yang mendapat kepercayaan Pemerintah Jepang akan diberikan stiiker di depan rumah mereka.
Mungkin bisa di asimilasi, atau dijadikan refleksi bagi kita semua untuk lebih peduli lagi akan kejahatan yang menimpah anak-anak, serta orang-orang ‘lemah fisik; misalnya perempuan, atau anak laki-laki yang masih kecil, lansia. Ingat, semua bisa jadi korban tidak hanya mencakup umur tertentu atau jenis kelamin tertentu.
Pada umumnya, selain budaya kankei-nai, juga ada budaya Bernama jisatsu (bunuh diri). DI Jepang ada istilah jisatsu (bunuh diri).
Istilah ini bermula dari sejarah para samurai di Jepang yang memiliki jiwa pejuang atau patriotri, yang apabila samurai kalah perang maka, mereka akan menebas perutnya. Hanya saja gaya bunuh diri zaman sekarang berbeda, seperti menabrakan diri ke kereta, minum racun, menggantung diri,dll.
Kasus seperti Kato Tomohiro (25) seorang penduduk Shizouka, tempatnya tiga jam dari Tokyo. Tomohiro sengaja menabrakan truk Isuzu Elf seberat 2 ton dalam jarak 159 km dari Kota Susano, Provinsi Shizuoka pada kerumunan orang-orang di Akihabara (tempat wisata). Ia mengumumkan rencanya ke internet H-20 Menit sebelu kejadian.
Asut punya usut, motif pelaku disebabkan karena pelaku hanya ingin mendapat kepedulian yang tidak pernah ia dapatkan. Diperkuat dengan ucapannya;
“Jika ada orang yang mau ngehentikan aksi ‘tidak masuk akal’
dia maka, ia akan berhenti, tapi sayang budaya kankei-nai, begitu melekat-erat seperti jiwa dengan raga pada masyarakat Jepang.
Menurutku, kita harus tahu garis kapan kita perlu cuek, dan harus PEDULI pada lingkungan kita. Ya kalau cuek dengan kritikan yang tidak bermaksud membangun, ya tinggalkan atau cuek saja, tapi jangan separah itu juga cuek hingga seperti halnya kankei-nai, misal, masa tetangga kos sakit engga tahu, atau ada kabar tetangga meninggal engga tahu. Itulah pentingnya mengambil peran di Masyarakat.
Tindakan bunuh diri menurutku, juga bukan terjadi karena lemah ”mental” saja, tapi lemah iman, karena setahu ku Negara Jepang masih termasuk negara yang kurang kepercayaan akan tuhan. Jiwa individualis, motto Jepang yang kankei-nai tersebut. Kurangnya percaya akan adanya tuhan dan ajaran agama sehingga jalan pintas yang dipilih hanya bunuh diri. Namun, sejatinya itu tidak menyelesaikan masalah malah menambah masalah bagi keluarga yang ditinggalkan almarhum atau almarhm sendiri saat menghadap Allah nanti.
Beberapa hari lalu aku ikut kajian offline tentang gaya hidup ala Al Quran, di kajian tersebut dibahas sekilas bahwa hukuman yang tuhan yaitu allah pada orang yang bunuh diri adalah akan dilihatkan padanya dan orang banyak di Padang Mahsyar nanti . Bagaimana cara dia mati, aib nya akan dibuka sejelas-jelasnya, dan akan dihukum berubah pengulangan terus menerus padanya caranya mati didunia fana dulu. Kita harus berterima kasih pada Allah, selama di dunia fan aini begitu baik menutupi Aib-aib kita.
Sebelum kamu mengambil keputusan yang akan kamu seseli ini, coba ingat kembali jiwa mu, tubuh mu adalah hal yang dibagi-NYA.
Tidak sepantasnya kamu ‘merusak atau mendzolimi“ jiwa dan tubuh yang tuhan bagi padamu. Sungguh, dia pencipta-mu akan marah, dan kecewa dengan keputusan sepihakmu. Itulah mengapa aku juga menyakini hukuman dari tuhan bagi orang yang bunuh diri sebagai yang dijelaskan di atas.
Jangan kecewakan tuhanmu dengan keputusan itu, Walau seperti manusia didunia ini tidak menginginkan kamu ’bernafas’, atau ‘julid’ atau tidak peduli pada masalah hidup kamu, bukan berarti hidup kamu tidak berharga.
Jangan ya, hidup mu itu berharga, kamu kuat dan istimewa. kita dilahirkan untuk terus beribadah pada tuhan, saat yang tepat setelah ‘bekal’ kebijaksanaan, kebajikan, dan akhlak yang mulia kita ‘pupuk’. DIA yang Maha Penyayang akan memanggil kembali hamba-NYA yang berfitrah saling Penyayang itu, dalam keadaan sebaik-baiknya dikembalikan.
DIA yang Maha penyayang akan mengangkat semua sifat manusia mu (nafsu, rasa iri hati, sombong, kemarahan yang bercampur kecewa pada manusia), kesedihan di dunia fana hanya sementara ya, bersabar ya.
DIA begitu menyayangi kita hamba-Nya, setiap tarikan nafas mu, ada DIA di dekatmu, dimana pun kamu mengaduh, menangis, mengeluh, DIA Maha Mendengar, begitu dekat dengan setiap tarikan nafas serta aliran darahmu.
Ujian berupa masalah itu beragam juga ada yang terus diuji dengan sederet masalah atau musibah dari aspek keluarga, pertemanan, keuangan dll, juga ada yang diuji dengan limpahan harta, jabatan, tahta, penghormatan diri di masyarakat,
Bagaimana ia bersyukur hanya pada DIa yang Maha Esa atas apa yang telah di bagi pada hambanya yang berlumur dosa ini. Sabar, syukuri, jika saat ini kamu masih punya masalah sebab itu artinya kamu HIDUP, Allah masih notice hidup kamu.
Jika kamu hidup enak-enak aja, malah itu yang harus dipertanyakan
'what wrong with you?’
Tentang Penulis:
Salah satu ibu (muslim) rumah tangga asal Indonesia yang membesarkan ke tiga anaknya dengan hebat dan penuh kasih sayang. Beliau adalah pemerhati budaya Jepang, beliau juga aktif membuat website berbasis informasi tentang Jepang. Dapat di akses melalui www.closertojapan.com. atau nesiari@gmail.com.
Nesia,beliau lahir di Makassar, 1 Desember 1975, tidak beda jauh dengan ibu saya. Selanjutnya, akan saya panggil ibu Nesia. Ibu Nesia menyelesaikan Pendidikan SMa Negeri 2 Makassar, di tahun kedua setelah kelulusannya dia menikah dengan pemuda Bernama Azhari Sastranegara yang sekarang menjadi suami dan ayah dari 3 (tiga) anak Bu Nesia (Fatimah Syakura, Fadel Abdurrahman, Fadiya Sakina).
Penilaian Penulis Mengenai Cerita Ini :
Kelebihan
menceritakan seorang Muslim (ibu) yang mendidik 3F(anaknya) di Negeri Sakura, Jepang. Penggambaran istilah dengan penjelasan footnote yang memudahkan pembaca.
Kekurangan
mendetail meceritakan secara detail bagaimana mengolah emosi (marah) bagi orang tua kepada anaknya.
Menurutku, malah di Bab-bab yang kurang mencerminkan bagian Bu Nesia dengan anak-anaknya jauh menarik. Misal, Bu Nesia menggambarkan interaksi Putri Bungsunya Fadiya dengan nenek Hayashi, pola piker nenek Hayashi-san yang memukau “Nenek berusaha untuk tidak pikun, Nak. Kalau Nenek pikun, nanti nambah merepotkan orang serumah,” katanya dengan tatap merawang ke depan.
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar