Resensi Seni Mendidik Anak Era 4.0 Karya Asti Musnan

 Bismillahirrahmanirrahim.

Qoutes :

“Berikan sayap-sayap cinta agar dia bisa terbang, berilah “akar” agar dia bisa kembali, dan berilah alasan agar dia tetap bersamamu.”

-Dalai Lama-

Cover Buku

Identitas Buku        : 

Genre                                    : Self Improvement / Pengembangan Diri

Judul                                    : Seni Mendidik Anak Era 4.0,  Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui dalam Mendidik Anak di Era Milenial Mewujudkan Anak Cerdas, Mandiri, dan Bermental Kuat.

Penulis                                 : Asti Musnan

Penyunting                           : Mustika Putri

Paksara dan Perancang Sampul : Ryan

Penerbit                                      : Psikologi Corner

Kota Penerbit                             : Yogyakarta

Tahun                                         : Januari 2020

Cetakan                                       : Cetakan 1

 Jumlah Halaman                       : 265 Halaman

ISBN                                         : 978-623-7324-92-8

 

Rangkuman pengantar Buku:

Parenthing  atau pola asuh anak adalah suatu proses untuk meningkatkan dan mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, finansial, dan intelektual seorang anak sejak bayi hingga dewasa. Dalam buku ini juga membahas secara singkat Teori Baumrind, bahwa ada hubungan erat antara gaya pengasuhan dan perilaku anak-anak yang mengarah pada hasil yang berbeda dalam kehidupan anak-anak. Diana Baumrind juga membagi gaya pengasuhan yang umumnya sering kita dengar seperti Authoritative Parenting  (Pengasuhan Otoritatif), Authoritarian Parenting (Pengasuhan Otoriter), Neglectful Parenting , dan Indulgent Parenting .

Dyah D. Anggarini membagi Parenting dengan lebih beragam seperti Parenting Otoritatif, Parenting Permisif, Parenting Acuh tak Acuh, Parenting Sembrono, Parenting kasih sayang, Parenting positif, Parenthing Narsistik, Parenthing pendampingan, Parenthing Berlebihan, Parenting menyesuaikan dengan keadaan, Parenting yang meracuni, Parenting lumba-lumba, Parenting ubur-ubur, Parenting hipnosis, Parenting berlebihan, Parenting ala macan, Parenting gajah, dan Parenting Mercusuar.


Analisis Bacaan/Buku :

Buku ini membahas juga gaya pengasuhan Bunda dan Ayah. Semisalnya bunda cenderung punya hubungan emosional yang lebih besar kepada anak daripada ayah, sedangkan ayah cenderung kurang fokus untuk membuat anak merasa nyaman atau aman sebaliknya ayah lebih suka menantang anaknya dan membantu mereka bersiap menghadapi dunia nyata. Bunda pada umumnya lebih mengutamakan anaknya terlebih dulu seperti anak diminta makan setelah melihat anak kenyang barulah bunda makan dan Ayah tampak “terlalu tangguh” dibandingkan bunda, tapi ketangguhan ayah bertujuan untuk membantu anak-anak bersiap menghadapi kehidupan nyatanya. Buku ini juga membahasa pola asuh berbagai negara terkenal seperti Pola Asuh Denmark, Pola Asuh Indonesia (suku jawa, Bali, Bajo) , Pola Asuh Korea, Pola Asuh Jepang, Pola Asuh Prancis, Pola Asuh Amerika. Beberapa pola asuh diatas, perensi menyoroti pola asuh yang menarik secara pribadi yaitu Pola Asuh Prancis dan Pola Asuh Denmark.


Pola Asuh Denmark

Sejak 1973 konsisten terpilih menjadi sakah satu negara paling bahagia bagi anak-anak menurut OECD (organisation for Economic Cooperration and Development), dalam praktik pola asuh ada Play, Authanticy, Reframing, Empathy dan Togetherness and Hygge. Play (Bermain) melatih ketangguhan pada anak, kemampuan “bouce back” untuk mengelola emosi dan menghadapi stres adalah kunci untuk hidup sehat pada orang dewasa.

Tahukah kamu ?

Lego berasal dari Denmark, dikembangkan oleh tukang kayu dengan yang bermakna “Bermain dengan baik”. Lego (Leg Godt) mainan dari balok kayu yang terus dimodifikasi dan diperbaharui ini populer sekali di Denmark khususnya dan Dunia pada umumnya.

Praktik Reframing (memaknai ulang), orang tua anak di Denmark cenderung menggunakan bahasa yang mendukung dan mengurangi anak-anak guna memahami alasan dari emosi atau tindakan mereka. Pada percakapan dengan anak, selalu menggunakan kata why/how/your opinion.

Praktik Hygge (kenyamanan), dengan membuat waktu santai bersama teman, keluarga yang benar-benar diwujudkan.

 

”Ibaratnya, membantu anak memanjat pohon. Saat pertama kali, anak butuh makan orangtua akan menguluran tangan, terus-menerus sampai orangtua hanya membantu dengan satu jari untuk membuat anak berdiri lagi, dan pada waktunya nanti, kita akan membiarkannya bangkit sendiri. Kita tidak mengangkat atau memaksanya”.

 

Pola Asuh anak di Denmark, umumnya memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan dan menemukan hal baru. Pola asuh negara ini meminimalisir memberikan pujian setiap saat, berbanding kontras dengan pola asuh Jepang. Pola Asuh jepang cenderung memberikan pujian dan apabila dipuji, maka menyangkal dan memuji orang yang memujinya. Pola Asuh anak di Denmark, jika anak gagal maka mereka cenderung berkata “ Aku yakin kamu bisa mendapatkan nilai yang lebih bagus, Ayo latihan lagi!”.


Pola Asuh Prancis

Beberapa hal yang aku pribadi soroti dari pola asuh ini seperti hebatnya orang tua Prancis yaitu anak sejak dua sampai tiga bulan umur anak, dibiasakan tidur ditempat tidurnya sendiri sejak bayi di boks bayi.  Orang tua menerapkan “The Pause” saat anak menangis, memberika waktu menenangkan diri sendiri di malam hari. Jika sampai waktu menenangkan sudah habis dan bayi masih menangis, barulah orang tua datang untuk menenangkan anaknya. Supaya meminimalisir sedikit-sedikit ditimang-timang bayinya. Adab makan pada pola asuh Prancis yaitu makan dengan tenang dan dimeja makan. Dibiasakan pula mengucapkan salam sejak kecil. Menceritakan pun dongeng cerita sedih, bukan hanya dongeng dengan akhir cerita bahagia. Diharapkan anak tahu bahwa rasa sakit dan sedih adalah bagian dari kehidupan sedari dini. Terakhir, oramg tua Prancis diajarkan Tegas berkata “tidak” pada anak.  Ketika anak dibilang tidak secara tegas makan akan melatih anak bersabar, tenang dan menerima bahwa tidak semua hal bisa ia dapatkan dari orang tua bahkan jika dia menangis tersendu-sendu.

 

Tentang Penulis :

Asti Musman merupakan nama pena dari seorang yang bernama Estiningdyah, S. P. Bu Estiningdyah, ia alumni Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Pernah menjadi freelance reporter  di Bali Pos, Harian Nusa (Bali), dan Bali News. Aktif sebagai Praktisi di berbagai Radio di Bali, eksekutif produser news  dan feature Jogja TV, dan pernah mengajar dosen FISE Unriyo Yogyakarta, mengajar mata kuliah Produksi Berita TV dan Dokumenter. Sekarang menjadi Direktur Operasional Radio Global FM Jogja. Menulis 30 buku melalui penerbit Cahaya Atma Pustaka, Andi Publisher, Citra Media, Psikopedia, Penerbit Andi, Psikologi Corner, Quadrant, Pustaka Jawi, Oxigen Media Ilmu, Mueeza, dan Arsaka. Kaizen for life tahun 2019 menjadi karya terbaru dari penulis.

 

Penilaian Mengenai Cerita Ini :

kelebihan 

Memberikan contoh permainan anak-anak di tiap negara

kekurangan 

Sekarang sudah menuju Era 5.0 dan pola asuh Indonesia tidak mewakili tiap pulau. Hanya Pulau Jawa saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Halusinasi Cerpen Arab Karya Najib Kailani diterjemahkan oleh Zuriyati

Resensi Merindu Cahaya De Amstel