Resensi Buku 'Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi'.
Bismillahirrahmanirrahim
Menulislah
setiap hari dan buktikan apa yang terjadi
“Jadi Inspirasi
jangan ditunggu tapi digunakan saja.kamu dapat bangga akan pencapaian dirimu
kepada banyak orang setelah melalui berbagai proses yang tidak instan.”
“Jadikan
Membaca dan Menulis sebagai kebutuhan.”
Tentang Buku :
Membaca dan menulis itu saling terkait. Menulis seperti
menggambar manusia;ada kepala, badan, dan kaki. Jika dianalogikan kepentingan
sama seperti manusia butuh makan dan minum. Berbagai tips menulis disajikan di
Bab-Bab yang tidak terlalu panjang oleh Pak Wijaya.
Identitas Buku :
Judul
: Menulislah Setiap Hari dan
Buktikan Apa Yang Terjadi
Penulis
: Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd.
Penyunting Isi dan Bahasa : Yuan Acitra, S.E.
Penyelaras
: Marcella Virginia
Penerbit
: Indeks penerbit
Kota Penerbit
: Jakarta
Cetakan
: Pertama, 2012
ISBN
:
979-062-339-9
tentang penulis:
Sebuah karya inspuratif bagi saya yang ditulis oleh seorang Guru di SMP Labschool Jakarta. Beliau bernama Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd. beliau berkarier sebagai pengajar bidang studi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di SMP Labschool Jakarta. Alumni teknologi pendidikan pascasarjana UNJ. Penulis yang bermoto hidup kejujuran kunci keberhasilan dan kesuksesan. Kelahiran 1970. Sejak 1992, Penulis buku peningkatan kualitas pembelajaran internet di kelas akselerasi dengan metode CTL & Penilaian Portofolio (2007), Buku mengenal Penelitian TIndakan Kelas (2009), Buku Yuk Kita Nge-blog! (2009),dll.
“Jadilah Seperti Mata Air;Semakin Diambil Semakin
Bening Airnya.”
“Sebab Menaklukkan ribuan orang belum tentu dikatakan sebagai pemenang, tapi mampu mampu menaklukkan diri sendiri itulah penakluk gemilang.”
Apabila untuk
menghilangkan malas menulis.
Analisis Bacaan :
Sebuah kehormatan bagi saya membaca buku ini, seperti metode refleksi diri ketika membaca tulisan pak Wijaya. Betapa pentingnya kita mencontohkan sesuatu daripada banyak omong tanpa tindakan. Berulang kali kamu akan menemukan kalimat ini dibuku “Tak ada penulis hebat yang tak menjalani proses menulis.” Seolah penekanan kalimat berulang itu begitu Omjay tekankan pada pembaca, dan menurutku itu menjadi ciri khas dan point of value dari membaca buku ini. Pak Wijaya atau OmJay membagi beberapa tips dalam menulis dan disini aku coba merangkum sepemahaman ku saja. Yuk, disimak
Tips menulis dari Omjay
Jika ingin bisa menulis ya bekalnya harus siap, banyak
membaca. Untuk menambah referensi bacaan, kamu bisa beli buku cuci gudang aja yang
lebih murah. Kalau kamu suka berburu buku, ini juga jadi pengalaman mengasikkan
mencari harta karun buku terbaik,terunik dan terinspirasi saat cuci gudang atau
di rental buku.
Proses membaca membantu kamu menemukan teori atau bahan bacaan yang bisa dijadikan acuan atau bahan untuk menulis. Kalo sangat susah menulis coba rekam suaramu kemudian tulis kembali hasil rekaman yang kamu dengar di hp. Kalo ingin informasi dan ilmu baru dari bacaan tidak hilang ya segera risensi/review. kamu bisa memilih secara personal informasi yang dibutuhkan dari buku dan bagian mana yang kamu butuhkan.
Dylan thomas berkata
"Menulislah karena hanya itu cara intuk membuat dunia tahu apa yg kamu pikirkan."
Hal 259.
“Sebab dengan menulis, penulis pikirannya akan terbuka dan kreativitas menulis pun akan keluar dengan sendirinya. Kalo kamu berhenti menulis kamu akan kehilangan momentum indah dalam perjalanan hidup kamu yg indah ini."
halaman, 210.
Tips jika kamu yang mau menulis tapi bingung mau nulis apa? buntu,mentok??.
· Jawabanya ayo segera refresh energi mu Agar kembali pulih untuk menulis lagi. Lalu harus ada komitmen dalam diri untuk mulai menulis dan terus-menurus menulis. Jangan terlena pada ketakutan yang tidak pasti alasannya. Istirahat sejenak dan baca buku untuk menambah perbendaharaan kata mu, terawang jauh dalam menemukan ide yg cemerlang.
· feeling saat menulis itu bisa mempengaruhi emosi(perasaan) dalam
tulisan loh
· Saat keresahan muncul, langsung
tuliskan di kertas atau di hp. Tulis
dulu, keep dulu, edit, publish. Proses edit bisa dilakukan jika yang ada
dalam pikiran kamu sudah tersalurkan semua. Bijaklah dalam berpikir sebelum
memposting harus diperhatikan, baca basmallah sebelum mengklik publish.
“so, jangan pernah benci tulisan kamu,sayangilah tulisan kamu sendiri.”
Hal.95
Kapan harus menulis?
· Tulislah kapan saja dan dimana saja,
bisa pagi atau tengah malam, sebelum tidur atau saat istirahat sholat makan
(ishoma)
· Menulislah sebelum tidur.
· Menulis setelah tidur
Analisis Buku
Dari semua kata dibuku entah kenapa aku sangat tertarik pada
kata :Resourcefulness (suka
membaca, melihat dan mendengar banyak hal). Kata yang begitu mengenah pada
pribadi ini hingga aku ingin menempatkannya di profil sosmedku agar menjadi
motivasi untuknya memiliki/membangun kebiasaan itu hingga nafas terakhir diriku
didunia fana ini.
Salah satu tokoh inspiratif yang Omjay sebutkan di buku ini adalah Prof.H.Imam Suprayogo;beliau rektor
pada masanya yang dengaan amanah jabatan dan tanggung jawab besar masih menyempatkan
dirinya untuk menulis. Ya apalagi kita, ketampar banget kan yak sama beliau,
malu aku setelah tau beliau dari buku ini.
Selain itu ada dua guru inspirated yang
terus menulis Pak Johan Wahyudi dan Ibu Ajeng Kania. One day
aku juga ingin rajin menulis seperti mereka selayaknya seorang guru dan dapat
mencontohkan keteladanan budaya membaca dan menulis pada peserta didiknya. Agar
dunai pendidikan dapat tercerahkan. Untuk mahasiswa Omjay pernah membahas bahawa untuk karya
ilmiah dibutuhkan ketelitian dan fokus dengan terus banyak membaca buku untuk
mendukung kerangka teori. Hal ini sejalan dengan kalimat yang aku dapatkan
bebrapa hari lalu dalam webinar Prof Sugiyono melalui Zoom tanggal… dengan tema
…
Hellen keller mengguncang dunai dengan tulisannya, tulisan
bukan hanya pekerjaan tangan.
Three in one, jika guru m peserta didik dan orang tua membudayakan
minat menulis akan saling melengkapi dalam mengiisi konten edukasi yang terasa
sunyi. hal 213
Penilaian Penulis Mengenai Cerita
Ini :
Menurutku bagi kamu yang sedang ragu dalam menulis atau
sedang membangun kebiasaan menulis bisa baca buku Pak Wijaya. Buku ini terdiri
dari beberapa Bab, tapi dalam satu Bab tidak terlalu panjang. Dengan menulis
pengetahuan terpelihara dan akan selalu bertambah,
“Bangsa
yang Rabun Membaca Buku dan Lumpuh Menulis”.
Begitulah analogi di atas, aku menjadi teringat satu-satunya
pembelajaran guru di sekolahku tentang menulis di Diary. Pada saat aku dan
teman sekelas diminta menulis lewat diary, tapi budaya menulis di Diary tersebut
tidak berlanjut dikemudian harinya. Pun aku tidak melihat guruku pernah menulis
diary juga saat menyuruh kami menulis. Entahlah mungkin beliau juga sedang
menulis. Ku harap bukan Cuma menyuruh peserta didiknya saja.
Terima kasih Omjay atau harusnya aku panggil Bapak wijaya (Pak Guru), sebab
membaca buku Omjay aku, aku jadi berani mendaftar di Kompasiana dan ingin
setiap hari juga menulis. Menulis
adalah sedekahku sekarang. Semoga jika Allah izinkan aku mencari
Guru Pendidikan Khusus, aku bisa membiasakan budaya mmendengarkan,membaca dan
menulis kepada peserta didik berkebutuhan khusus (khususnya hambatan
pendengaran, hambatan intelektual, Kesulitan Belajar dan Anak Cerdas Istimewa
(Gifted and Talented).
Di buku ini aku mendapat solusi dair permasalahan malam
menulis. Podcast ya satu kata yang generasi muda akan suka. bisa dicoba aku
terapkan untuk peserta didik berkebutuhan khusus malas nulis. Aku bisa meminta
merekan merekam podcast dan tulisakan kembali hasil dari mendengar podcast atau rekaman suara di hp.
Untuk hambatan pendengaran dan hambatan intelektual aku dapat membiasakan
menulis mereka menulis diary dengan
kosakata yang semampu mereka dan senyaman mereka menuliskan. Pembiasaan itu juga berlaku untuk
guru, dan orang tua. One Day I
Must Try it on My Idea
One day, aku pun ingin menjadi penulis skenario film pendek khususnya seputar pendidikan khusus, aku harus banyak sekali belajar dari orang-orang dan buku. Ku yakin allah kuatkan dan mudahkan aku. Aamiin

Komentar
Posting Komentar