Resensi Buku LGBT (Lo Gue Butuh Tau) Karya Sinyo
Bismillahirrahmanirrahim.
Qoutes :
“Oleh karena itu, kita pasti akan
berusaha untuk sesuai dengan fitrah yang telah Allah berikan. Seperti yang
telah Allah firmankan, beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya, yakni
orang-orang yang menempuh jalan kebaikan, dan menghindarkan dirinya dari
penyakit menyekutukan Allah, dan Mendustakan ajaran Rasulullah.”
![]() |
| Cover Buku |
![]() |
| Daftar Isi |
Identitas Buku :
Judul
: LGBT (Lo Gue Butuh Tau)
Penulis
: Sinyo
Penyunting : Ratih
Cahaya
Perwajahan, dan Tata Letak : Dwi Novitasari Anggraini
Desainer Sampul : Azurecca
& Kurnia Dewi Hernawan
Ilustrator : Asmala, Dita, M.Khoirul Alimudin
Penerbit
: Gema
Insani
Kota Penerbit
: Depok
Cetakan
: Ketiga, Jumadil Awwal 1439 H/Februari
2018
Jumlah Halaman
: 124 halaman.
ISBN : 978-602-250-303-3.
Rangkuman pengantar Buku:
Apa perbedaan antara SSA (same sexual
attraction)?
1. Seorang LGBT mengakui Bahwa
Ketertarikannya kepada sesama jenis adalah anugerah kebaikan dari Allah yang
harus disyukuri dengan tindakan seksual atau pernikahan sesama jenis.
2. Seseorang LGBT mengingingkan orang yang
memiliki ketertarikan sesama jenis berhak hidup dengan identitas sosial dan
legalitas sebagai homoseksual.
Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal
hayyul qayyumu wa atuubu ilaih.
Sungguh gerakan penyesatan yang nyata. Aku
jelas tim Kontro LGBT sebab jelas dalam prinsip aku, agama aku, sisi kesehatan
yang secara tidak langsung aku dapat dari ibu, sisi sosial dari bapak, berbagai
sisi yang berujung pada KeKontraan pada gerakan LGBT ini.
Analisis Bacaan/Buku :
Berdasarkan
kasus atau narasi tentang LGBT yang ;dikemas’
Kak SInyo dengan inisial ‘Klien’ yang beragam seperti Lesbian atau Gay atau
Korban Kecanduan Pornografi. Aku menarik garis besar pada umumnya LGBT terjadi
sebab Keluarga inti, dan Lingkungan. Pada sisi keluarga seperti terjadinya Broken
Home, dan Anak merasa tidak mendapat panutan dari Ayah atau Ibunya. Selanjutnya,
Lingkungan betapa ini begitu ‘penting’, lingkungan yang ‘sehat’, lingkungan
yang dapat ‘mendorong’, dan memotivasi anak menjadi lebih baik dari segi Agama,
Kesehatan mental, dan segi sosial. Akupun turun miris pada anak-anak yang harus
hidup ‘terpaksa; di lingkungan yang tidak ramah anak-anak, lingkungan perang
(perang sebenarnya, perang keluarga, atau tidak ada percontohan yang baik pada
segi bertetangga).
Aku jadi
ingat salah satu kisah Ayah, dan Anak yang mendatangi Rasulullah. Ceritanya ada
seorang ayah datang mengeluhkan pada Rasulullah bahwa anak laki-lakinya Durhaka
padanya. Sebagai penengah, dan orang yang dimintai solusi maka, Rasulullah
mendengarkan perseptif ayah, dan anak tersebut. Didapat bahwa ya menurut
penjelasan ayah, anak ini durhaka.
Namun,
Rasulullah tidak berhenti pada penjelasan ayah tersebut saja, anak tersebut
bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya ingin bertanya apa Hak seorang
anak?”, kemudian Rasulullah dengan detail dapat penyampaian yang penuh Kasih
menjelaskan Hak anak adalah Ayah
mencarikan Ibu yang baik, Nama yang baik, dan lingkungan yang baik.
Maka jelas
saja anak tersebut menjawab, maka sebelum saya disebut anak durhaka maka ayah
saja jelas lebih dulu durhaka sebab beliau tidak memberi Ibu yang baik pada
saya Ya Rasulullah, Beliau juga tidak memberi saya Nama yang baik (nama itu
adalah doa orang tua untuk anaknya,Nama itu harus punya arti, tidak sembarang
ingin terdengar ‘keBarat-baratan atau karna pernah terdengar di Al Quran dan
sembarang saja seperti Qurun, Firaun, padahal tokoh tersebut bukanlah tokoh
panutan, dan masih banyak lagi aku temui orang tua menemai anaknya sembarang
saja, maka sembarang pula doa tersemat pada anaknya),
Terakhir
lingkungan, ada hak anak yang harus dijamin orang tua untuk menempatkan
lingkungan yang baik (lingkungan tinggal, lingkungan sekolah, dan lingkungan
bermain anak yang perlu dijamin). Apabila tiga hal hak anak tersebut telah terpenuhi
oleh Ayah maka, bila anak tetap atau menjadi Durhaka, terlepaslah ‘dosa[
tersebut bukan tanggungan ayah atau ibu.
3 hal penting ini akan aku
sangkutkan pada analisis aku.
Pertama keluarga,
ada satu cerita dalam buku ini yang kalimat akhirnya membekas dihati aku, bahwa
“kamu fokus belajar kembali, berusaha memahami
bahwa sebenarnya keluarga, dan sekolah sangat perhatian pada kamu, mungkin
caranya saja yang masih kurang tepat.", hlm.28 .
Keluarga
jika kamu tidak mendapat panutan dari
ayah, dan ibu kamu (aku
ingin kamu, dan kita sadari Bahwa orang tua tidak ada yang sempurna, dan tidak
ada anak yang sempurna, hanya selalu ada kekuatan untuk terus belajar lagi dan
lagi menjadi yang terbaik versi mereka), ada memberimu solusi tarik garis wali ayah
dan ibu kamu (ambil panutan dari Kakek pihak ayah, paman, wawak, Pak Cik, Pak wo, Om atau
apapun yang biasanya kamu memanggil mereka.
Jika tidak dari pihak ayah (tarik garis wali dari Ibu, ambil
panutan dari kakek pihak ibu, Om kamu, wawak, paman atau apapun yang biasanya kamu
nyaman memanggil mereka). Sadari bahwa
kita masih manusia yang punya kecenderungan berbuat salah terus, dan ilmu
terbatas. Jadi harus legowo mau belajar terus, dan berguru disini jangan cari
yang guru baik saja, cari guru atau panutan TER-Baik, terbaik, terbaik (sampe
tiga kali saya ingin tegaskan hal ini).
Selanjutnya
JIka aku engga dapat panutan dari keluarga inti, dan keluarga besar?? Ohh tenang
sista atau bro, Ambil panutan dari tetangga, liat kanan
kiri kamu, cari tetangga yang punya sisi baik dalam pengajarannya. Engga dapat juga? Ambil panutan dari guru,
dosen, ustadz, atau tokoh masyarakat yang punya sisi baik yang dapat kamu
ambil. Terkahir adalah ambil dari sisi teman akrab.
Segi teman
akrab, ini sangat rentan. Kenapa? Kamu punya hak untuk selektif memilah teman. Untuk
perempuan yang memang punya kecenderungan lebih ‘pemilih dan memfilterI circle perteman, mungkin tidak susah memiliah teman
sholehah yang selalu mengingatkan minimal ayo udah waktunya
sholat, memenuhi panggilan Dia yang menciptakan kamu, minimal bisa ngaji yak. Dua pokok hal penting
jika kamu ‘tersesat’, dua cara untuk kembali pada-NYA.
Untuk para
laki-laki, aku tahu dibanding perempuan kaum laki-laki kurang bisa selektif
memillah teman (hipotesis aku ya sebab lali-laki gengsi juga kalo memillah-milah
teman, atau temannya sedikit) , tapi jangan khawatir, menurutku ini bisa jadi
solusi untuk laki-laki jika kamu di posisi menyimpang atau tidak bahwa ingatlah
ini.” Sebejat atau sebrengsek teman kamu sadari bahwa Allah pasti memberikan
minimal 1 kebaikkan dalam diri teman mu itu, entah dalam segi agama, sikap
jujur, segi sosial empatinya yang tinggi, dan lainnya.
Bersyukur
jika kamu diberi anugrah lebih untuk melihat sisi kebaikan teman mu itu, yang
mungkin tidak diperlihatkan Allah pada yang lain, special lah kamu itu. Nah
ambil 1 kebaikan itu untuk kamu implementasikan dalam hidup kamu, dan keburukan
teman karib yang kamu jadikan evaluasi pembelajaran untuk kamu jangan
mencontohnya minimal jika kamu belum bisa mengingatkan atau menggerakkkan
temanmu dijalan kebaikan. Selalu berdoa pada Dia yang Maha BIjaksana, dan Maha
Pengasih untuk melindungi hati, dan pikiran kamu dari penyakit hati, LGBT, dan
berdoa untuk selalu di’peluk; allah pada keimanan, dan takwa pada-NYA. Teguhkan
ajaran agama kamu.
JIKA kau
dia bilang tidak menjunjung hak asasi manusia oleh LGBT, Tegaslah mengatakan
bahwa ada HAK, dan Kewajiban jelas harus kau tahu. JIka keberadaan mu sudah
mengganggu kenyaman kami, Maka, jelas kamipun punya hak untuk menentang
keberadaan eksistensi mu disini. Kami akan dengan tangan terbuka Bedoa untuk
kebaikan kamu agar kembali ke FItrah kamu. Doa adalah Senjata terkuat yang
tidak akan terkalahkan, dan mengecewakan kami.
Serta jika kamu mau mengambil tantangan untuk kembali ke fitrah kamu, kami bersama mu, ingatlah you’re not alone, ada Allah, DIa yang Maha Kuasa pembolak hatimu, ada keluarga besarmu (ambil garis wali ya wali ayah, dan ibu yang masih Sangat bisa kamu ambil mereka sebagai panutan kamu), tetangga yang bisa kamu ambil sebagai panutan, sahabat karib yang mendukung kamu untuk kembali ke fitrahnya, lingkup sekolah dan perguruan tinggi yang mendukung, dan sangat peduli padamu.
Tentang Penulis:
Sinyo nama
pena dari Agung Sugiarto, seorang Sarjana S1 Pendidikan Bahasa Prancis UNY,
menyukai membaca, serta tulis menulis sejak duduk dibangku sekolah dasar. Karyanya
adalah fenomena cinta Rismi, kontributor
tetap Hotgame (Gramedia), penulis utama majalah winning eleven (Gramedia).
Karya lainnya ‘akhlak muslim dalam belajar, dan akhlak muslim dalam bergaul,
‘aku pernah durhaka’, anakku bertanya tentang LGBT,’quanta kids, komik ibadah
si Alif,’Tetap gaul Tapi Syar;i. Kecintaannya pada bidang tulis menulis
menguatkan beliau untuk keluar dari pekerjaan lama (sebagai kepala cabang ISP
Indonet Cabang Magelang), untuk fokus menulis dan aktif pada bidang sosial
khusus parenthing. Salah satunya lewat yayasan peduli sahabat. Teman teman bisa kontak mereka di IG Pedulisahabat
Penilaian Penulis Mengenai Cerita Ini :
Kelebihan dari buku ini adalah termasuk buku
‘sekali duduk’. Halaman buku juga tidak terlalu tebal, terdapat ilustrasi
gambar pendukung. Bahasa yang digunakan sederhana, jelas, dan mudah dipahami . Mungkin
juga sebab sasaran buku ini untuk Remaja, karenanya dikemas dengan bahasa
sederhana, dan ilustrasi gambar pendukung agar tidak bosan membacanya.Terdapat
pula bagian intervensi singkat bagaimana mengenali apakah kamu punya
kecenderungan LGBT atau tidak sedari dini, tapi aku tetap menyarankan
intervensi lanjutan langsung ke Ahlinya (Ustadz atau Psikolog yang Kontra
LGBT).
Kekurangan, kurang tebal halamannya.


Komentar
Posting Komentar